5 Years: Failure

Narita, April 2013…

Perjalanan pesawat sekitar 8 jam membawa saya dan rombongan tiba di bandara Narita. Temperatur Kanto pada awal April yang cukup sejuk menyambut kedatangan kami saat itu. Sebagian melanjutkan perjalanan dengan pesawat dalam negeri ke Osaka, yang lainnya berpisah ke beberapa daerah di Tokyo sesuai program yang diambil. Sepanjang perjalanan di bus saya melemparkan pandangan ke luar jendela. Struktur kota, jalan, bangunan, bunga sakura yang bermekaran, reklame dengan huruf kanji, semuanya sangat asing bagi saya sekaligus menarik. Tak berhenti sampai di situ, kartu Suica yang dengan sekali tap bisa masuk peron stasiun Okubo, strip hijau kereta Yamanote setiap 3 menit sekali, pusat Shinjuku dan Harajuku, semuanya adalah impresi pertama saya terhadap negara yang selama ini hanya bisa saya rasakan lewat produk-produknya entah itu manga, anime, ataupun kendaraan bermesin.

Setahun pertama saya mulai dengan belajar aksara hiragana dan katakana yang belum pernah saya pelajari sebelumnya. Lalu ditambah dengan cicilan 8 huruf kanji setiap hari selama hampir satu tahun. Selebihnya ya seperti belajar bahasa pada umumnya: membaca, mendengar, menulis, dan percakapan. Setelah setahun pertama dihabiskan dengan belajar bahasa Jepang plus IPA dasar dalam bahasa Jepang, saya pergi ke prefektur Wakayama, daerah Kansai. Di tempat ini kembali saya diperlihatkan pemandangan yang tidak familiar dan bertolak belakang dengan tempat saya menghabiskan setahun pertama saya. Kereta yang berjalan bersebelahan dengan laut dan pantai, sawah dan bukit-bukit dengan banyak pohon mikan, stasiun di mana Suica tidak bisa dipakai, bus yang hanya ada satu jam sekali, dan berbagai pemandangan khas pedesaan lainnya. Belum cukup sampai di situ, perkenalan saya dengan teman-teman di tempat ini menuntut saya untuk mempelajari dialek setempat yang cukup berbeda dengan bahasa Jepang yang saya pelajari setahun di sekolah bahasa.

Diberikan pengalaman-pengalaman tersebut, sudah tentu seharusnya saya bersyukur. Tetapi memang ada saja manusia seperti saya saat itu yang selalu merasa kurang dan melirik rumput tetangga yang terlihat lebih hijau. Salah satu hal yang paling saya pikirkan saat itu adalah tentang umur, kelulusan, dan hal-hal semacam itu. Mengambil beasiswa ini berarti saya harus menghabiskan setahun belajar bahasa Jepang dilanjutkan dengan 3 tahun program D3 sebelum akhirnya mengambil ekstensi 2 tahun di universitas untuk menyelesaikan program sarjana. Jika diestimasi, saya akan lulus S1 pada Maret 2019. Cukup lama dibandingkan dengan jika saya melanjutkan di Bandung yang memungkinkan kelulusan pada tahun 2016 kemarin.

Berada di Jepang mau tak mau saya juga tetap berkontak dengan teman-teman dari MAN yang mengambil program kuliah dengan bahasa inggris dan langsung memulai perkuliahan tanpa harus belajar bahasa Jepang intensif terlebih dahulu. Melihat teman-teman sepermainan yang sudah mulai belajar ilmu-ilmu baru di jurusannya masing-masing sedangkan saya masih dalam tahap persiapan bahasa, membuat saya rendah diri. Setelah pergi ke Wakayama dan memulai perkuliahan, saya juga masih tetap merasa di bawah melihat teman-teman saya belajar di universitas papan atas sedangkan saya terdampar di pedesaan, itupun bersama anak-anak yang terpaut dua tahun di bawah saya.

To such an extent that I consider myself as a failure…

Ketika saya ke rumah untuk liburan musim panas dan bertemu dengan orang-orang yang saya kenal, entah itu teman saya atau teman orang tua saya, pertanyaan tentang apa yang sedang dilakukan sekarang pasti selalu ada. Urutannya: “Sekarang kuliah atau kerja?” -> “Kuliah di mana?” -> “Jepangnya daerah mana?” -> “Nama universitasnya apa?” -> dan teruuuuuusss sampai ujungnya balik lagi ke pernyataan “Kok ngambil D3 Jepang, S1 di Bandung kan juga udah bagus.” Berkali-kali ditanya begini sampe jadi hafal urutannya.

Tapi emang begitu sih, kepo banget sampe kelar. Padahal dibilang daerah Wakayama juga udah hampir pasti pada ga tahu. Emang sih, ga bisa kita mengontrol apa yang orang lain mau tanyakan ke kita, tapi dibombardir pertanyaan-pertanyaan semacam itu mau gak mau membuat saya melihat kembali ke belakang, di titik di mana saya harus membuat keputusan. Ditambah dengan saya yang memang tidak bersyukur dan membandingkan dengan kehidupan teman-teman saya. Pada akhirnya saya putuskan untuk mengurangi bertemu dengan orang-orang maupun berkontak dengan teman-teman lama. Sempat juga menonaktifkan media sosial selama beberapa waktu.

Salahnya saya adalah tidak memperbaharui niat saya sebelum berangkat ke Jepang. Setelah istikhoroh dan mengonfirmasi akan mengambil beasiswa ini, saya masih melirik ke belakang dan bimbang dengan keputusan yang telah saya ambil. Akibatnya saya juga membandingkan diri saya dengan teman-teman seperti dalam hal jangka waktu studi dan tempat belajar. Pikiran saya hanya terpaku seputar hal-hal yang sebenarnya sepele jika niat dan tujuan saya jelas sejak awal. Mungkin seperti itulah yang disebut hamba dunia. Melupakan akhirat dan terpaku pada hal-hal duniawi belaka.

Pada akhirnya 2016 berlalu dan sebagian besar teman-teman seangkatan saya sudah lulus dari kampusnya. Ada yang langsung bekerja, melanjutkan S2, maupun memulai usaha. Ada yang sudah menikah dan bahkan sudah punya bayi. Begitupun dengan teman-teman saya yang di Jepang. Sebagian ada yang kembali ke Indonesia sebelum berpencar kembali ke tempat impiannya masing-masing, ada juga yang langsung melanjutkan studi di Jepang. Yang seharusnya sudah harus saya pahami sejak lulus MAN, bahwa jalan masing-masing sudah berbeda semenjak titik kelulusan tersebut. Dan tak perlu saya membandingkan jalan saya dengan yang lainnya, karena hal tersebut tidak membawa apa-apa kecuali rasa iri, dengki, dan rendah diri, setidaknya pada kasus saya.

Padahal jika diputar kembali ke belakang dan saya memilih tetap di Bandung, tak ada jaminan bahwa saya akan lulus dengan mulus dalam jangka waktu 4 tahun. Bisa jadi saya keranjingan game atau banyak mata kuliah yang harus mengulang disebabkan saya yang malas mengerjakan tugas. Atau dalam kasus lain yaaa skripsi ga kelar-kelar gegara males bimbingan, hehe. Apapun pilihan yang saya ambil saat itu akan selalu ada rasa penyesalan karena tidak mengambil pilihan yang lainnya, kembali lagi ke masalah niat dan tujuan yang memang tidak jelas sejak awal.

Just because you took longer than others, doesn’t mean you failed. Remember That

Ganbare buat yang masih berkutat dengan skripsi atau perkuliahannya. Jangan kalah dengan kemalasan dan semoga diberi kemudahan dan kelancaran serta bisa lulus di tahun ini. Wassalam.

Masih di musim dingin…
Sebelum purnama pertama tahun ini…

Gobo, 10 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s