5 Years: Peta Hidup

Serpong, awal tahun 2012…

Sebelum beasiswa yang saya ambil sekarang sekitar 4 atau 5 tes beasiswa ke luar negeri telah saya ikuti dan semuanya bukan rejeki saya. Di tes-tes tersebut beberapa teman sepermainan saya lulus dan sudah menyelesaikan studinya tahun kemarin, bahkan sudah ada yang lanjut S2. Gagal tes berkali-kali dalam kurun waktu kurang dari setengah tahun membuat saya menyerah dan membuang muka terhadap kesempatan kuliah di luar negeri dan sudah berniat melanjutkan pendidikan di Bandung sampai selesai. Tes beasiswa yang saya ambil saat ini saya jalani seadanya tanpa ada niat mengambilnya sama sekali. Qadarullah, saya diluluskan tes berkas, tertulis, dan wawancara sampai akhirnya dinyatakan lulus seleksi dan dimintai konfirmasi akan mengambil beasiswa ini atau tidak.

Keputusan berangkat ke Jepang atau tidak merupakan persimpangan terbesar dalam hidup saya, setidaknya hingga saat ini. Apakah straight langsung menghabiskan perkuliahan sarjana di Bandung, atau mengambil beasiswa ke Jepang, yang diharuskan belajar bahasa Jepang dahulu setahun dan lewat program D3 selama 3 tahun. Keduanya baik, namun harus ada pilihan yang dilepas beserta fitur-fitur di dalamnya. Waktu untuk mengambil keputusan saat itu tidak bisa dibilang banyak dan beragam faktor memengaruhi pengambilan keputusan saya saat itu. Merasa tertekan dan bingung, saya pasrah dan istikhoroh yang akhirnya membawa saya ke tempat sekarang ini.

The thing is… I didn’t have a clear goal.

Melanjutkan di Bandung saat itu adalah pilihan terakhir setelah gagal tes-tes beasiswa ke luar negeri. Melanjutkan ke Jepang dengan beasiswa yang sekarang adalah murni hasil istikhoroh setelah kehilangan motivasi kuliah di luar negeri. Tentu bukan cuma saya yang dihadapkan pada pilihan-pilihan semacam ini. Namun di antara orang-orang yang saya kenal, mereka tahu di mana mereka ingin lihat diri mereka setidaknya 4-5 tahun ke depan sehingga pengambilan keputusannya jelas dan mantap, entah dengan istikhoroh maupun tidak.

Pada akhirnya ketika ditanya alasan mengapa memilih ke Jepang daripada tetap di Bandung, saya terpaksa membuat jawaban yang bisa menunjukkan seolah saya sudah mantap dengan keputusan saya. Meskipun saya tidak ingat jelas apa yang saya katakan kepada orang-orang yang bertanya saat itu, rasa bersalah selalu menghantui diri saya yang belum bisa merealisasikan apa-apa yang dikatakan diri saya, yang saat itu benar-benar hilang arah dan tujuan. Hanya permintaan maaf yang bisa saya sampaikan kepada yang bersangkutan jika membaca tulisan ini.

Di antara orang-orang yang benar-benar bertanya tentang alasan saya saat itu, ada pula yang bertanya hanya untuk sekedar membandingkan kedua pilihan saya. Kalimat semacam “Ngapain ngambil D3 Jepang, S1 di Bandung juga udah bagus” atau “Nanti aja S2-nya baru ke Jepang, sayang kan kelamaan kalo dari D3” mengisi beberapa bulan sebelum keberangkatan saya ke Jepang. Muak? Bohong kalo bilang nggak, haha. Mungkin lain cerita kalau saat itu saya bener-bener punya tujuan yang jelas atas keputusan saya.

Yang jelas ini jadi pelajaran banget buat saya untuk selalu membuat plan-plan jangka panjang maupun jangka pendek sehingga ketika dihadapkan pada sebuah pengambilan keputusan tidak banyak keraguan yang datang. Meskipun pada akhirnya keputusan terbaik datang dari melibatkan Allah lewat istikhoroh, namun jika ada niat yang lurus dan tujuan yang jelas, tentu lebih mudah menjalaninya bagaimanapun hasil akhir keputusannya.

Saya jadi teringat ketika kelas 12 di MAN dulu, guru Aqidah Akhlak di sekolah, pak Away, meminta kepada semua murid untuk membuat peta hidup. Saya yang waktu itu banyak absen kelas karena ada pelatihan di luar memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur dari tugas tersebut bersama seorang teman sehingga waktu pengumpulannya lewat sedangkan kami masih di luar sekolah. Setelah kembali ke sekolah dan berkali-kali ditagih tugas tersebut, teman saya akhirnya mengumpulkannya beberapa minggu sebelum kelulusan. Saya? satu-satunya di angkatan yang tidak membuat dan mengumpulkan peta hidup.

Terlepas sesuai atau tidaknya kehidupan sekarang dengan apa yang ditulis dan terlepas dari penting atau tidaknya peta hidup tersebut, tugas itu mengajarkan teman-teman saya untuk membuat rencana-rencana jangka pendek dan panjang dan berusaha untuk selalu berpegang pada rencana yang telah dibuatBeberapa ada yang masih menyimpan dan banyak yang sesuai dengan apa yang ditulisnya entah itu tentang studi, pekerjaan, menikah, dan banyak juga yang dari awal lulus MAN sudah berbeda. Insya Allaah semuanya merupakan jalan terbaik yang Allah pilihkan.

Di post ini juga saya ucapkan selamat kepada teman saya, Muhammad Salman Al Farisi dan juga rekan di divisi lingkungan mbak Rifaatul Mahmudah yang telah menyempurnakan separuh agamanya pada Desember lalu (nikahnya sama pasangan masing-masing, bukan mereka berdua nikah). Kalau ga salah inget waktu itu yang si Salman tulis di peta hidup juga menikah pada awal-awal umur 20-an antara 21-24 , persisnya saya ga inget. Alhamdulillah dikabulkan. Kalo punya Ifa ga tau, ga pernah liat.

 

 

 

Musim dingin ke-3 di Wakayama…
Lengkap dengan gemuruh anginnya…

Gobo, 10 Januari 2017

 

Advertisements

2 thoughts on “5 Years: Peta Hidup

  1. semangat faiz! aku juga sedang ada di fase mempertanyakan kembali apa yang diinginkan dan dituju. susah memang tdk membandingkan diri kita dg orang lain. tapi memang seharusnya kita membandingkan diri kita sskrg dan masa lalu. cukup itu saja barangkali ya untuk terus bersyukur. melihat org lain perlu untuk mempush diri sendiri bukan membuat merasa makin kecil #ntms.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s