5 Years: Personal Space

Gobo, pertengahan tahun 2014…

Orang Jepang itu unik dan jelas berbeda dengan orang Indonesia. Tapi rata-rata mereka mempunyai sebuah hal yang memperjelas perbedaan mereka dengan kebanyakan orang Indonesia: privasi yang cenderung tinggi. Hasilnya mereka memiliki personal space yang cukup luas dan mungkin di mata orang-orang barat dan asia tenggara mereka akan terlihat sebagai pemalu.

Awal-awal tahun saya di Wakayama cukup terasa apa yang disebutkan artikel di buku pelajaran bahasa Jepang dulu tentang personal space. Singkatnya personal space ini adalah ruang atau wilayah yang jika dimasuki orang tertentu, seseorang akan merasa tidak nyaman bahkan terancam. Semakin dekat hubungan seseorang dengan orang tersebut, maka personal space yang dipatok orang tersebut akan semakin menyempit. Kira-kira begitu. Jadi bila anda adalah seseorang yang belum dikenal sama sekali, kebanyakan orang Jepang hampir pasti tidak akan mengajak ngobrol basa-basi atau jangankan sekedar menyapa. Dan hal itulah yang saya alami di Wakayama saat pertama kali datang.

Duduk di kelas pada jam istirahat, sama sekali tak ada yang mengajak ngobrol atau istilahnya kalau di Indonesia SKSD gitu. Ada yang sibuk dengan telpon pintarnya, bercakap-cakap dengan temannya, ada juga yang melakukan hal-hal tidak jelas. Kendala lain pada saat itu adalah mereka berbicara dengan dialek Wakayama, sedikit berbeda dengan dialek Kansai pada umumnya, dan jauh berbeda dengan bahasa Jepang yang saya pelajari di sekolah bahasa dulu. Padahal sewaktu di Tokyo saya amat jarang berbicara dengan bahasa Jepang karena masih banyak teman Indonesia dan saya tidak PD dengan kemampuan bahasa Jepang saya yang sangat jauh dibanding teman-teman saat itu.

Setahun pertama saya lewati dengan cepat, rasanya. Selain pelajaran di kelas hampir tidak ada percakapan yang berarti antara teman-teman sekelas dan saya. Orang yang nampaknya excited dengan kedatangan mahasiswa asing di kelasnya pun pada akhirnya juga sama saja dengan yang lainnya. Jika digambarkan, mereka serasa membangun tembok yang tinggi dan tidak mau keluar dari dalamnya. Dan saya yang saat itu terkendala masalah bahasa, selain tidak dapat menangkap dan mengerti percakapan teman-teman, saya juga bingung mau ngomong apa ke mereka takut merekanya ga ngerti, haha. Yang akhirnya oleh mereka juga disalahpahami bahwa saya membangun tembok juga (berdasarkan pengakuan dari orangnya langsung).

Mulai tahun kedua di Wakayama, setelah bisa menangkap isi percakapan mereka saya mulai memberanikan diri memulai percakapan lebih dahulu. Dimulai dengan topik basa-basi sampai akhirnya ke hal-hal yang benar-benar menarik bagi mereka. Ga perlu yang berat-berat, cukup angkat topik tentang baseball atau seputar anime, biasanya udah ngalir percakapannya. Satu hal yang belum bisa saya masuki percakapannya yaitu tentang game smartphone, karena sayanya juga gak main, hehe. Dari situ ya mulai deh bisa ngerjain PR dan laporan bersama, banyakan main-mainnya sebenernya. Kalau di tempat lain mungkin mahasiswa asing terkesan pintar dan rajin, jadi teman-temannya banyak minta bantuan ke mereka. Lain halnya dengan di kelas saya. Karena banyak anak yang rajin dan kebalikannya saya males ngerjain tugas, jadilah terbalik saya yang minta diajarin. Ini jangan ditiru, gembel banget emang.

Tapi kembali lagi, ini hanya berdasarkan pengalaman saya semata. Faktor-faktor seperti kepribadian saya sendiri dan kepribadian teman-teman saya serta suasana kelas waktu itu tentu memengaruhi apa-apa yang saya alami. Contohnya di tempat lain teman saya yang memang teman-temannya tidak seperti kebanyakan orang Jepang, tidak membutuhkan waktu yang lama sampai bisa akrab hingga dibawa ke tempat-tempat hiburan malam (lol). Teman sayanya ga ngapa-ngapain si cuma nungguin di luar, katanya.

Tapi secara general, saya bisa menyimpulkan untuk berinteraksi dengan orang Jepang harus dari diri sendiri yang aktif memulai percakapan. Jadi ya saran saya kalau ada yang lanjut studi atau kerja di sini, pede aja ajak ngomong orang-orangnya. Good luck!

Kereta dan tempat duduk

Lanjut. Hal lain yang menarik adalah posisi duduk di kereta atau di tempat duduk umum. Ambil contoh di kereta yang kursinya memanjang di bagian pinggir gerbong, biasanya subway. Kalau kereta sedang sepi dan tidak banyak penumpang, orang Jepang akan memilih duduk jauh dari orang-orang yang tidak di kenalnya. Misal ada kursi yang memanjang dan sudah ada yang duduk di ujung kanan, maka notabene orang selanjutnya akan duduk di ujung kiri. Orang selanjutnya akan mengisi di bagian tengah, dan orang setelahnya akan duduk di antara orang di tengah dan di pinggir dan mematok jarak minimal lebar satu orang. Begitu seterusnya sampai terjadi kondisi selang seling antara orang dan ruang kosong. Kereta mulai penuh, barulah ruang-ruang di antara orang-orang yang duduk duluan tadi diisi. Ribet ya penjelasannya, haha. Coba dibayangin sendiri.

Lain halnya kalo misal kursinya bukan kursi memanjang di tepi, tetapi kursi yang menghadap ke depan dan berbaris-baris. Tipe gerbong seperti ini biasanya adanya di kereta-kereta pedesaan yang penumpangnya relatif lebih sedikit dibanding kereta commuter atau subway di kota besar. Biasanya satu kursi menyediakan ruang untuk dua orang. Maka jika sudah ada orang duduk di salah satu sisi kursi sedangkan kursi di depannya masih kosong, maka orang Jepang akan mengambil kursi depan yang masih kosong tersebut. Jika semua kursi terisi (terisi salah satu sisinya, masih ada sisi lain untuk satu orang) dan kereta masih cukup lengang, kebanyakan orang akan memilih berdiri. Lalu ketika mulai banyak penumpang datang, baru sisi-sisi yang kosong tersebut diisi. Mungkin bisa diamati sendiri kalau berkesempatan ke sini.

 Gobo, 10 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s