00.46

Ia tutup layar telpon selularnya untuk yang kesembilan kali. Tetap tidak ada jawaban dari seberang. Entah, mungkin perbedaan siang dan malam yang tidak merestui. Malam itu tak ada seorangpun di sekelilingnya. Hanya cahaya temaram dari beberapa lampu taman yang senantiasa menemani langkahnya malam itu. Langkah yang arahnya sendiri tidak jelas ke mana.

Angin malam semakin menjadi seiring revolusi jarum jam di tangan kirinya. Dirinya masih bimbang antara ingin menikmati angin semilir dengan suara mendayunya atau kembali ke dalam ruangan menghindari suhu yang semakin turun. Tanpa memilih ia menyandarkan dirinya di pinggir sebuah jembatan. Ia lemparkan pandangannya ke segala arah, memastikan bahwa tidak ada orang di sekelilingnya, kemudian ia menekan tombol call sekali lagi.

Malam ini satu hal ia sadari. Bahwa dirinya yang sekarang tidak lebih dewasa daripada anak laki-laki 4 tahun silam.


Di bawah purnama

Wakayama, 16 Oktober 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s